h1

Elektro Plating dan Lingkungan

19 Maret 2009

Konon, luas lahan hutan di Indonesia mencapai 120 juta hektare, tetapi sekitar 40-an juta hektare diantaranya mendekati kritis, dan sekitar 23 juta hektare dinyatakan dalam kondisinya kritis. Bila kondisi itu dibiarkan atau tidak mendapat perhatian serius, di masa datang lahan hutan di Indonesia pastilah mengalami puncak kekritisan yang berkepanjangan. Akibatnya lingkungan hidup sekitar akan terancam dilanda bencana banjir serta tanah longsor.
Selain perusakan lahan hutan yang merupakan salah satu bentuk penistaan terhadap lingkungan hidup, pencemaran air karena limbah, terutama limbah industri yang mengandung zat-zat berbahaya dan beracun, juga merupakan salah satu ciri perusakan keji terhadap lingkungan hidup. Dalam hal ini, unsur lingkungan hidup yang dominan dirusak adalah unsur abiotok (tanah dan air).
Limbah industri elektro plating adalah salah satu contoh limbah industri yang sangat berbahaya bagi kelestarian lingkungan hidup. Bahkan bagi kesehatan manusia pun limbah elektro plating sangat berbahaya. Sebab, limbahnya berasal dari bahan-bahan kimia yang digunakan, dan hasil dari proses pelapisan adalah beracun. Proses elektro plating merupakan pengendapan satu lapisan logam tipis pada suatu permukaan logam atau plastik yang dilakukan dengan tenaga listrik ataupun reaksi kimia.
Limbah-limbah dari hasil proses elektro plating yang dikategorikan berbahaya, diantaranya limbah asam. Limbah asam ini dapat menyebabkan luka pada kulit, selaput lendir, selaput mata dan saluran pernapasan.
Kemudian limbah basa yang berasal dari bahan-bahan seperti ammonium hidroksida, potassium hidroksida, sodium hidroksida, sodium sianida, sodium karbonat, sodium pryophospat, sodium silikat, dan trisodium phispat. Sianida sangat beracun, dan dapat mematikan bila tertelan. Menyebabkan iritasi kerongkongan, pusing, mabuk, mual, lemah, dan sakit kepala, bahkan berhenti bernafas.
Di Ibu Kota Jakarta dan sekitarnya sebagai contoh. Sebagian besar kali atau sungai yang mengalir dan berada di Jakarta dan sekitarnya, tercemar limbah domestik dan industri. Sumber air baku yang digunakan kedua operator PAM Jaya itu juga ikut tercemar sebelum masuk ke Jakarta.
Menurut Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta Budirama Natakusumah, sekitar 70 persen sungai di Jakarta tercemar limbah detergen, limbah tinja, dan amonia dari rumah tangga. Di sisi lain, limbah berbagai industri dan jasa di sekitar sungai juga turut menambah pencemaran.
Melihat dari bentuk perusakan lingkungan hidup diatas yang dampak dan akibatnya telah mengancam dan menimpa kelangsungan ekosistem, di satu sisi adalah sebagai bukti nyata bahwa sadar lingkungan di tengah masyarakat masih rendah, dan di sisi lain juga keseriusan pemerintah belum memadai untuk pelestarian lingkungan hidup.
Di era Presiden SBY saat ini, memang sudah dimulai pencanangan sadar lingkungan. Lewat Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2008 tentang penetapan tanggal 28 November sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia, dan Desember sebagai Bulan Menanam Nasional.
Gerakan moral oleh Presiden SBY tersebut, sudah cukup lumayan, sehingga untuk masa datang gerakan moral serupa juga diharapkan bisa terealisasi, khususnya dalam hal sadar lingkungan atau pelestarian lingkungan dari pencemaran limbah industri berbahaya dan beracun. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: