h1

Tokoh Plating

18 Maret 2009

Hanapi Nurmawan
Pelopor Plating Moderen

Selalu terlihat tegar, punya rasa kekeluargaan yang kuat, ramah dan berpenampilan sederhana, sehingga tak menampakkan seorang pengusaha sukses, dia adalah Hanapi Nurmawan, lahir di Bandung 67 tahun silam. Ia selalu punya cita-cita serta tujuan. Sikap hidup inilah yang membuat Hanapi Nurmawan satu dari sejumlah pelaku elektro plating yang tetap eksis-meraih sukses demi sukses dalam hidupnya. Bahkan bila dilihat dari rekam jejaknya, Hanapi pantas disebut sebagai tokoh elektro plating Indonesia.
Sebutan itu tidak mengada-ada. Sebab, sebagian besar hidupnya dia habiskan untuk menggeluti dunia plating. Padahal, sebelumnya dia tidak pernah berfikir untuk menggeluti dunia yang penuh dengan bahan-bahan kimia yang sangat berbahaya.
Hanapi begitu biasa disapa, adalah anak negeri berdarah campuran, ayah perantau dari China, dan ibunda berdarah campuran Indonesia (Bandung), China, dan Belanda. Hanapi sendiri lahir di kota kembang itu.
Tak seperti kebanyakan anak-anak perantau dari negeri tirai bambu, Hanapi kurang begitu berminat berdagang, apalagi berpikir menjadi pengusaha. Orang tua juga tak pernah memaksakan Hanapi supaya ia mengikuti jejak saudara-saudaranya sebagai usahawan. Karenanya, begitu tamat Sekolah Menengah Atas tahun 1958 di Jakarta, Hanapi lebih tertarik bekerja dengan menerima upah tiap bulan. Kala itu, Hanapi bekerja sebagai karyawan ekspedisi (forwarding) selama hampir tiga tahun di Tanjung Priok.
Sebenarnya masih ingin bekerja di ekspedisi tersebut, namun di tahun 1961, bibinya menawarkan Hanapi untuk mengelola perkebunan dan peternakan di Bandung. Selama di Bandung, selain mengelola perkebunan dan peternakan, terkadang juga Hanapi bekerja di bidang yang berkaitan dengan otomotif atau mesin kendaraan. Namun bagi Hanapi, apapun yang dilakoni pada masa itu, semua merupakan bagian terpenting dalam sejarah hidup.
Di Kota Kembang itulah, sekitar tahun 1964, pucuk dicinta ulam pun tiba, Hanapi bertemu dan mempersunting tambatan hati, Meilisa namanya, putri seorang usahawan. Mereka “dipertemukan” dengan berbagai persamaan maupun perbedaan prinsip hidup. Diantaranya dalam hal mencari nafkah, Hanapi lebih suka bekerja menerima upah bulanan, sementara Meilisa cenderung buka usaha sebagaimana yang ditanamkan orang tuanya.
Kini, dua perbedaan itu menjadi satu kebersamaan dalam mahligai kebahagiaan, Meilisa bukan sekedar istri yang baik atau ibu dari ketiga putri dan seorang puteranya, bagi Hanapi Meilisa adalah mentor dalam kemandirian bersikap dan bekerja. ”Dia itu tidak mau suaminya menjadi pegawai yang menerima gaji bulanan. Prinsipnya harus berusaha sendiri, dan tidak bergantung kepada orang lain,” tutur Hanapi memuji istri.

Setahun Keliling Pasar
Sikap dan kemandirian sang istri, menjadi pendorong tekad Hanapi untuk kembali ke Ibu Kota. Selepas menikah, tanpa pekerjaan dan bermodalkan uang tak seberapa, merekapun pindah ke Jakarta. Awalnya Hanapi pesimis dengan prinsip sang istri untuk buka usaha, karena ia tidak memiliki modal uang dan latar belakang. Tapi istri tetap bersikukuh dengan ajaran orang tuanya.
“Jangan punya suami yang bekerja pada orang lain, artinya harus usaha,” begitu Hanapi menirukan petuah mertua lewat istrinya.
Karenanya, Hanapi lebih percaya diri untuk bekerja keras mencari peluang-peluang usaha. Hari-harinyapun dihabiskan untuk berkeliling di Pasar Pagi, Jakarta. Hampir setahun ia malang-melintang disana, sayang hasilnya nihil. Simpanan makin menipis, di lain pihak istri tetap melarang Hanapi bekerja pada orang lain.
Pernah suatu ketika, karena sangat ingin bekerja untuk mendapatkan uang, diam-diam Hanapi bekerja di perusahaan jual-beli dan reperasi pendingin udara (Air Conditioner). “Tapi saat istri tanya gaji, buru-buru saya tinggalkan pekerjaan itu,” ujarnya.
Persis setelah hampir setahun pengangguran, sekitar tahun 1967, Hanapi ketemu seseorang yang kebetulan masih satu silsilah keluarga. Orang itu mengajak untuk usaha bahan-bahan pemolesan logam atau yang sekarang dikenal dengan istilah elektro plating. Tanpa pikir panjang, Hanapi pun menguras sisa tabungannya sebagai langkah awal modal usaha mereka. Waktu itu, bisnis yang dijalankan adalah menjual buffing, alat untuk penghalus metal secara manual.
Beberapa bulan kemudian, merekapun memutuskan untuk berjalan sendiri-sendiri. Dari sinilah mulanya kemandirian Hanapi teruji yang kelak terbentuk karakter ulet dan sungguh-sungguh dalam bekerja sehingga menjadikan Hanapi seorang pengusaha sukses yang patut diteladani.

Dari Buffing ke Industri
Rekan usaha buffing nya itu, merupakan “guru” bagi Hanapi, karena dianggap sebagai pembuka jalan dalam berbisnis. Kemauan kuat, dan punya keyakinan kalau usaha buffing itu patut diteruskan, karena terbersit peluang masa depan. Bermodalkan semangat dan sedikit uang serta dukungan penuh dari istri, Hanapi memutuskan harus hidup dan besar dari usaha ini.
Ketika memulai usaha, pertimbangan ekonomis dan miskin pengalaman sudah tak masalah. Hanapi membeli alat-alat penghalus metal dari Bandung dan menjualnya sendiri hingga ke Semarang, Jogyakarta, Magelang, dan Surabaya. Mula-mula, alat penghalus metal yang dibawa untuk dijual hanya 20 sampai 40 lembar saja.
Jogyakarta adalah kota pertama yang menjadi tujuan, meskipun belum pernah ke kota pelajar itu, namun tak menyurutkan tekad Hanapi untuk menjajakan dagangannya.
“Waktu itu saya hanya coba-coba saja berjualan,“ sekilas Hanapi mengisahkan saat awal menggeluti bisnis elektro plating.
Saat turun di Stasiun Kerata Api Jogyakarta, Hanapi agak ragu-ragu karena memang kali pertama ke Kota Gudeg. Sambil menenteng barang dagangan, kepada seorang tukang becak, ia menanyakan bengkel yang bergerak di bidang usaha poles memoles. Bengkel yang dimaksud adanya di Kota Gede, sebuah daerah cukup lumayan jauh dari Yogyakarta. Meskipun begitu, Hanapi tetap kesana, dan ternyata kerja kerasnya tak sia-sia. Bengkel itu mau membeli beberapa lembar alat pemoles yang ditawarkan Hanapi.
Gayung bersambut, dari bengkel itu Hanapi mendapat pentunjuk kemungkinan bengkel-bengkel yang membutuhkan alat pemoles. Dari Kota Gede menuju Magelang, di daerah ini lagi-lagi dagangan terjual, hanya saja masih diutang. “Pemilik bengkel di Magelang itu belum punya uang kontan, tapi barang tetap saya berikan,” jelasnya.
Selain Hanapi yakin pemilik bengkel tadi jadi pelanggan, dari Magelang itu ia juga mengaku telah mendapat ilmu pengetahuan tentang plating. Seperti berbisnis multi level, dari pemilik bengkel yang satu diarahkan ke bengkel lainnya. Contohnya, oleh pemilik bengkel di Magelang tadi, Hanapi disarankan ke salah satu bengkel di Semarang, tepatnya di Jl Dr Cipto No 77, pemiliknya bernama Oskar, dan di bengkel inilah barang dagangannya terjual habis.
Memang bernasib mujur, bukan saja membeli alat pemoles yang dibawa Hanapi, Oskar malah minta dibelikan barang-barang lain. Tentu saja peluang emas itupun tak disia-siakan. Tengah malam hari itu juga, Hanapi naik kereta api menuju Surabaya untuk mencari barang yang dibutuhkan Oskar.
Dari hasil penjualan barang-barangnya itu, Hanapi dibelikan lagi buffing compound bermerek Langsol untuk dijual di Bandung dan Jakarta. Pola usaha ini, terus ditekuni, dan berjalan lancar tanpa masalah berarti. Sehingga, Hanapi bukan saja mendapat keuntungan, lebih dari itu ia juga makin kaya pengalaman berbisnis plating.
Tahun 1967, merupakan babak baru dalam perjalanan hidup Hanapi yang kemudian menjadi tonggak keberhasilan dalam membesarkan bisnis yang bergerak di dunia indusri elektro plating. Sekalipun kala itu masih berskala kecil dan manual, namun Hanapi sudah patut dibilang sebagai pengusaha elektro plating.

Astra Motor Order Plating
Sosok yang di kalangan karyawan dikenal pemurah dan baik hati ini, sudah tak ragu lagi melangkah jauh mengembangkan usahanya. Berbekal pengalaman singkat, dukungan istri yang tiada henti dan uang apa adanya, Hanapi mulai berpikir untuk mengimpor barang. Demi memuluskan cita-citanya, ia harus belajar bahasa Inggris, meskipun hanya satu bulan. Dan merasa sudah sekedar bisa berbahasa Inggris, lalu Hanapi berangkat ke Singapura untuk mencari perusahaan yang menjadi agen plating.
“Akhirnya, saya membuka usaha keagenan bahan-bahan elektro plating kecil-kecilan,” kata Hanapi.
Tidak disangka, salah seorang karyawan bernama Sabeni, ternyata memiliki kemampuan pemolesan logam. Atas saran Sabeni-lah, Hanapi lebih bertekad untuk membuka usaha pemolesan. Pada masa itu, Hanapi hanya menyediakan tempat usaha dan bahan-bahan pemolesan, termasuk pencari order, sedangkan yang mengerjakan pemolesan adalah tugas Sabeni.
Order pertama pemolesan logam yang dikerjakan datang dari sebuah perusahan sabuk pinggang. Dan kira-kira berjalan satu tahun, Hanapi mendapatkan tawaran yang lebih besar, memoles velg (baca: pelek-red) sepeda. “Pada masa itulah usaha saya mulai booming. Satu hari bisa mendapat dua truk sepeda,” Hanapi berkisah dengan semangat.
Memang kalau sudah rezeki tidak pergi ke mana-mana,” kira-kira begitu bisik hati Hanapi”.
Tak dinyana, di tahun 1973, sudah ada pertanda usaha Hanapi akan berkembang pesat seperti sekarang. Perusahan kendaraan bermotor terbesar di Indonesia saat ini, yakni Astra Motor (saat itu bernama Honda Federal Motor) memberikan order plating. Datangnya order plating dari Astra Motor tersebut, merupakan bukti perusahaan Hanapi sudah satu langkah lebih maju dari sebelumnya.

Pelopor Plating Moderen
Ambisi Hanapi untuk membesarkan usaha semakin kuat. Maka di tahun 1973 itu pula, ia menjual salah satu kendaraannya untuk modal membeli barang ke Singapura, dan sekaligus memperdalam ilmu tentang plating. Di negara berlambang Singa itu, Hanapi mulai merintis keagenan plating di Indonesia. Meski tidak punya uang yang cukup, dan hanya bermodal nekat, ia mengajukan diri sebagai agen plating di Indonesia. “Saya tak bisa buka LC. Tapi saya minta barangnya dulu dikirim, lalu saya jual, dan setelah terjual baru uangnya dibayar,” tutur Hanapi.
Perusahaan di Singapura itu cukup percaya, dan memberikan satu jalur usaha keagenan yang dimiliki di Indonesia supaya bekerja sama dengan Hanapi. Dengan langkah usaha keagenan plating itulah, bisnis Hanapi terasa mulai berkembang. Berapapun bunga bank yang diminta perusahaan Singapura tersebut, ia menyanggupi, dan pasti dibayar. Alasannya, Hanapi bisa memperoleh keuntungan hingga 100 persen.
Strategi dan upaya Hanapi untuk melebarkan sayap bisnisnya, tidak cukup hanya sebatas itu. Tahun-tahun berikutnya, sekitar 1975, Hanapi pergi ke berbagai negara, antara lain ke Inggris, Jerman, Amerika, dan Belanda demi menimba ilmu di bidang industri plating. Dan itu terus berlanjut hingga sekarang. Hasilnyapun cukup memuaskan, Hanapi sudah mampu membuat laboratorium kimia sendiri.
Proses manual atau konvensional pekerjaan plating di era 60-an, secara perlahan mulai ditinggalkan. Hanapi bergegas melangkah pasti memoderenisasi pengerjaan elektro plating. Tahun 1975, merupakan dimulainya proses perubahan pengerjaan plating secara manual menjadi moderen. Saat itu di Indonesia belum ada satu pun perusahaan yang mengerjakan plating secara moderen. Dan di tahun itu pula, Hanapi pertama kali mendirikan perusahaan yang resmi bergerak di bidang industri elektro plating dengan nama dagang “Hans Elektro Plating”. Kini, setidaknya ada sekitar delapan perusahaan Hanapi yang bergerak di bidang plating, baik langsung maupun tidak. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: